(Dokpri)
PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto adalah sebuah ambisi monumental. Dengan target 82 juta penerima manfaat--mulai dari pelajar hingga santri--dan klaim capaian 30 juta anak dalam waktu singkat, program ini menyedot anggaran fantastis, sekitar Rp1,2 triliun per hari. Skala anggarannya menyaingi anggaran pendidikan nasional, menjadikannya program sosial terbesar dalam sejarah Indonesia modern.
Secara konsep, MBG adalah investasi strategis. Data BPS 2023 yang menunjukkan 21,6% anak Indonesia mengalami stunting membuktikan bahwa intervensi gizi adalah sebuah keniscayaan. Namun, niat mulia ini terkoyak oleh realita di lapangan. Maraknya kasus keracunan massal, dari Jawa Tengah hingga Sulawesi Selatan, bukanlah insiden biasa. Ini adalah gejala dari cacat sistemik dalam desain kebijakan, dan jika tidak diatasi, akan melahirkan krisis yang lebih besar ke depan.
Akar masalah
Masalah utama MBG terletak pada arsitektur kelembagaannya yang terlalu sentralistik. Dengan menempatkan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai operator pusat, program ini menciptakan birokrasi baru yang mahal, lamban, dan terputus dari realitas lokal.
Kebijakan...





![[Tabligh Akbar] Dari Banten untuk Indonesia Damai - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/0IjyKlfB3Lo/maxresdefault.jpg)


![[LIVE] 40 Hadits Pokok Dalam Islam - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/M98MxIs-cn4/maxresdefault.jpg)