Reaksi Kementerian Pertanian terkait impor 250 ton beras di Sabang, Aceh, dinilai berlebihan. Sebab, volumenya kecil jika dibandingkan dengan produksi nasional dan status Sabang yang merupakan kawasan khusus.
“Beras yang diimpor ke Sabang sangat kecil. Tidak sampai 1% dari impor beras khusus. Kenapa sampai heboh seperti ini?” kata Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santoso kepada Katadata.co.id, Kamis (27/11).
Impor beras khusus 223 ribu ton selama Januari – Juli. Contoh beras khusus yakni Japonica dan Basmati. Beras-beras ini tidak diproduksi di dalam negeri dan biasa dipakai restoran.
Selain itu, ia mencatat Sabang kekurangan beras pada paruh kedua. Alhasil, harga beras medium di Sabang mencapai Rp 15.300 per kilogram, lebih tinggi dari HET untuk wilayah Zona III yakni Maluku dan Papua Rp 15.000 per kilogram.
Padahal, merujuk pada data Kementan, Aceh mengalami surplus beras hingga 871.400 ton. Cadangan Beras Pemerintah di provinsi ini 94.888 ton.
Menurut dia, Sabang defisit ketika Aceh secara keseluruhan surplus beras, disebabkan oleh biaya logistik. “Subsidi logistik itu perlu, terutama untuk wilayah-wilayah yang jauh dari sentra produksi,” katanya.
Anggota Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Bayu Krisnamurthi juga menilai pemerintah tidak perlu khawatir dengan impor beras 250 ton di Sabang, Aceh. Alasannya, volumenya kecil dibandingkan produksi beras nasional yang diperkirakan 30 juta ton lebih tahun ini.
Bayu yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Perum Bulog juga mengatakan, Sabang merupakan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas atau KPBPB berdasarkan UU Nomor 37 Tahun 2000. Impor ke Sabang tidak memerlukan izin pemerintah pusat.
“Sering kali lebih mudah dan lebih murah bagi Sabang mendatangkan beras dari l...

4 bulan yg lalu




![[Tabligh Akbar] Dari Banten untuk Indonesia Damai - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/0IjyKlfB3Lo/maxresdefault.jpg)


![[LIVE] 40 Hadits Pokok Dalam Islam - Ustadz Adi Hidayat](https://i1.ytimg.com/vi/M98MxIs-cn4/maxresdefault.jpg)