5 bulan yg lalu

Sejarah sarang burung walet sebagai komoditas unggulan Indonesia


Jakarta (ANTARA) - Sarang burung walet telah lama dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan dan bernilai tinggi di Indonesia.

Produk yang terbentuk dari air liur burung walet ini berkembang dari bahan pangan tradisional menjadi salah satu komoditas ekspor strategis, bahkan menempatkan Indonesia sebagai produsen terbesar di pasar global.

Indonesia memasok hingga 80 persen kebutuhan sarang burung walet dunia, terutama untuk pasar Tiongkok, yang menjadikannya sebagai salah satu produk paling vital bagi perekonomian nasional.

Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut sejarah sarang burung walet hingga menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia, melansir dari berbagai sumber.

Jejak awal penemuan sarang burung walet

Meskipun Tiongkok dikenal sebagai negara pengimpor sarang burung walet sejak berabad-abad lalu, catatan sejarah menunjukkan komoditas "Caviar of the Easr" ini berasal dari kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Penelitiannya merujuk pada temuan sejarawan asal Malaka, Lin Biao, yang pada abad ke-17 menemukan catatan mengenai penggunaan sarang burung walet.

Catatan itu mengungkap bahwa sarang burung walet pertama kali ditemukan oleh Admiral Zheng He, seorang penjelajah Dinasti Ming.

Saat armada Zheng He menghadapi badai hebat di sekitar semenanjung Malaysia, para awak kapal terpaksa berlindung di gua-gua pesisir.

Kekurangan bahan makanan membuat mereka mencoba sarang burung walet yang menempel di dinding gua pinggir laut.

Setelah mengonsumsinya, mereka merasakan pemulihan kondisi tubuh yang jauh lebih baik.

Temuan makanan tersebut dibawa pulang dan dihadiahkan kepada Raja Dinasti Ming, Chengzu. Kemudian, sarang ini cepat populer di kalangan bangsawan Tiongkok.

Sejak itu, sarang burung walet berkembang sebagai salah satu kuliner mewah Asia Timur dan meluas hingga menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi di tingkat internasional.

Awal masu...

Baca Seluruh Artikel

© Rileks 2026. Semua hak dilindungi undang-undang